tentang debar

Desember 3, 2009

aku terbiasa bertanya. tapi tidak harus kau jawab. karena memang tanya itu hanya untuk memuaskan inginku. aku bertanya, lalu aku berfikir sendiri. setidaknya aku berfikir tentang suatu hal, lalu belajar bagaimana menyelesaikannya. kali ini tentang debar. seberapa banyak debar yang pernah kau ciptakan. tolong jangan terburu-buru menjawab. ya, tentang seberapa banyak debar yang kau ciptakan. atau mungkin tiba-tiba debar itu mendatangimu. sosoknya memang tidak bisa dipastikan akan datang kapan dan dimana. jika kita berfikir bahwa debar sebagai pertanda datangnya masalah, atau malah debar itu sendiri yang memang sebagai masalah. maka tenanglah, kita telah mengusirnya, setidaknya di masa lalu. ya, bagian terberat dalam hidup kita sudah berada di belakang kita. lalu? lalu bersiaplah kembali untuk debar-debar yang lainnya. karena sejatinya kita memang tidak bisa menghindar dari debar-debar berikutnya. kecuali kita mampu merubah pola pikir kita tentang debar-debar itu. mungkin kita memang tidak pernah secara yakin menyatakan kesiapan kita untuk hidup. tapi kita telah siap bahkan sukses menyelesaikan masalah demi masalah. ya, kau benar, hidup hanya untuk menyelesaikan masalah demi masalah. begitupun debar-debar itu. mungkin tidak sedramatik memperdebatkan masalah dalam hidup. tapi sosoknya memang sangat nyata. setidaknya di rasa kita.

mungkin aku bisa memulainya dengan kisahku. ada debar-debar yang bisa kita ingat jelas hingga kini, ada juga debar-debar yang tanpa sadar kita abaikan. okay, sepertihalnya anak-anak lainnya, aku pernah dilanda gugup yang sangat. ketika itu beberapa saat sebelum melangkahkan kaki ke podium untuk mengikuti lomba pidato. dadaku bergetar hebat. lalu aku punya ide untuk menahan nafas. tapi yang terjadi adalah, bumi bergetar seakan tersenggol oleh dahsyatnya detak jantungku. aku tahan tidak terlalu lama, karena ternyata debar terus menderaku. hingga tiba saatnya aku harus menerima kenyataan untuk naik ke podium. aku masih berdebar. aku semakin grogi. tapi aku masih bisa menahan ambruknya tubuhku. aku terbata-bata. masih terbata-bata. sambil terbata-bata, aku berfikir, lalu aku kembali ke tekad awalku. aku mengutuk debar. yang berarti aku mengutuk rasa grogiku yang tak seberapa dibanding rasa maluku jika gagal menyampaikan pidatoku. tepuk tangan penonton, yang notabene teman dan lawanku, tiba-tiba membuatku bergelora. aku mampu mengusir debar, setelah berlama-lama mengutuknya. pidatoku tersampaikan dengan baik, bahkan salah satu kawan mengatakan terlampau baik. aku berapi-api, begitu pujinya.

dari situ aku baru sadar, bahwa pidato yang telah kusampaikan, ternyata sebagian besar tidak ada di teks pidato yang sudah kukonsep dan kuhapalkan. di podium, aku telah mampu mengembangkannya. saat menyampaikan pidato, aku baru merasa, bahwa aku yang di podium bukanlah aku yang biasanya. tapi aku mengenal sosok itu. ya, sosok itu adalah bagian lain dari diriku. dan debar itu telah mendorongnya keluar. lalu aku berterima kasih pada debar, yang berarti aku berterima kasih pada diriku, sosok diriku yang lain. lalu? lalu aku tidak pernah tidak keluar tanpa debar. bahkan ketika harus keluar untuk membeli sarapan, pun debar dengan setia menemaniku. dari sini, kau bisa menilai tentang pola pikirku atas debar-debar itu. tapi tak perlulah…kita pikirkan saja debar yang ada di diri kita. tapi tak perlu kau pikirkan laiknya kau berfikir tentang kompleksnya masalah yang mendera Negara kita.

memilih membiarkan

November 19, 2009

Bagi kebanyakan orang, setidaknya mereka yang bijak itu, mengatakan bahwa komunikasi yang lancar adalah salah satu cara mempertahankan hubungan baik kita dengan seseorang (bisa juga banyak orang). Komunikasi yang lancar memang salah satu, tetapi ternyata tidak sekadar salah satu. Karena komunikasi yang lancar termasuk dalam level teratas. Aku sempat sepakat dengan ungkapan itu. Ya, bagaimana tidak sepakat, hampir setiap kepala di dunia ini dengan tegas mengatakannya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa memang itu benar. Tapi persoalannya adalah aku belum bisa membuktikan hal itu dalam kehidupanku. Kau tau? Aku lebih memilih membatasi komunikasi dengan seseorang. Hanya karena aku takut, dengan komunikasi itu aku menyakitinya dan menyakiti diriku sendiri.

Aku takut dengan komunikasi, aku akan terlalu sering kecewa begitupun seseorang itu. Oke, ini memang rumit. Aku tidak terbiasa membahasakannya secara konkrit, selalu saja abstrak. Seperti yang sudah berlalu (meskipun ada potensi untuk terulang lagi), dimana aku dan dia yang terlalu sering kecewa di tengah maupun di akhir pembicaraan. Entah siapa yang memulai, tapi saat itu sangat jelas terasa dimana aku merasa kecewa, begitupun dia. Awalnya sama-sama berangkat untuk berbagi, lalu tanpa sadar ada sesuatu yang menyakitkan muncul. Entah dari kata-kata itu sendiri, makna kata-kata itu sendiri, intonasi pengungkapan, ataupun kelalaian-kelalaian lainnya. Ada saja yang menyebabkan dimana komunikasi aku dan dia hanya menimbulkan kekecewaan salah satu pihak maupun masing-masing pihak.

Jika sudah begitu, biasanya aku mulai bertanya , “lalu sebaiknya bagaimana? Apa yang terbaik untuk kita?” dan lain sebagainya dan lain sebagainya. dan, entah ini kabar baik atau malah sebaliknya, sampai sekarang aku belum mendapatkan jawaban bagaimana seharusnya aku bersikap. Karena seseorang itu, pun memilih diam. Dan akupun mulai merasa takut untuk berkomunikasi terlalu sering. Aku takut karena akan ada kecewa di sana. Aku hanya tetap bertahan dengan asumsiku, bahwa ini sangat tidak sehat. Ya, aku tahu ini tidak sehat. Sangat tidak sehat untuk sebuah hubungan. Belum lagi mata dan isi kepala mereka yang selalu mempertanyakan kenapa komunikasiku tidak lancar dengan seseorang itu. Tapi aku rasa aku tidak perlu terlalu sibuk untuk melayani mereka. Meski kuterima konsekuensinya, dimana ketika kukurangi komunikasi, maka yang ada hanya sepi. Dan yang tidak pernah mereka ketahui, adalah rasa perih. Perih itu adalah akibat.

Tentang ini, aku mengaku terbatas dalam mengungkapkannya. Aku tau kau pernah merasakan ada di sana. Di tempat itu. Di tempat yang sudah sangat akrab kukenal. Perih. Kecewa. Sakit. Dan rasa-rasa sejenisnya. Hingga aku terbiasa dan semakin akrab saja. Dan aku memilih menghindari konflik berkepanjangan. Meski konsekuensi dari semua itu adalah aku merasa sepi. Aku sepakat dengan konsekuensi itu, tetapi aku tidak sepakat dengan makna “sepi” yang selama ini mengakar kuat di ruang kepala banyak orang. Makna sepi selalu memiliki konotasi yang hampir seragam. Setidaknya di kepala kita. Alhasil, seseorang yang merasa kesepian, akan mendapat penilaian tersendiri dan menimbulkan cara pandang serta sikap dari jiwa lain yang mengetahuinya. Makna sepi yang aku maksud bukan itu. Aku memiliki cara pandang tersendiri tentang itu. Ya, karena aku menikmati sepi itu. kesepianlah aku; belajarlah untuk menerima kesepian itu. Buat peta untuk itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, duduklah bersamanya. Sambutlah pengalaman itu. Tetapi jangan pernah menggunakan tubuh dan emosi orang lain sebagai tempat pelarian untuk kerinduanmu yang tak terpenuhi. Mungkin berlebihan jika kukatakan aku sepakat dengan Liz tentang rasa sepi.

membiarkan takut

November 19, 2009

Kau mengerti apa makna dari rasa “takut”? Atau setidaknya pernah merasakannya? Oke, tentang ini aku sulit bagaimana harus memulainya. Aku hanya bisa mengatakan, aku akan mengatakan atau setidaknya mengidentifikasi diri ketika aku berada di tengah-tengah rasa takut. Dimana rasa takut mulai menjalar ke rasa, hingga memberikan dampak yang fatal. Bahkan bisa menghunjam ke jantung, hingga bekasnya sangat sulit hilang. Aku takut seseorang kecewa atas efek dari kata-kataku. Rasa kecewa yang dirasakannya, ternyata juga menimbulkan rasa kecewaku yang disebabkan oleh rasa kecewanya. aku kecewa, karena dia kecewa atas kata-kataku. Juga karena aku tidak berharap dia kecewa atas kata-kataku, yang memang tidak untuk tujuan ataupun berniat dengan sengaja mengecewakannya. Dan biasanya, akan semakin perih lagi ketika semua itu berhenti di tengah jalan. Tidak jelas, apakah aku dan dia sudah merasa tenang dari rasa kecewa yang memang belum tuntas menjawab mengapa dan bagaimana seharusnya. Karena itu tadi, rasa itu dibiarkan atau terkadang dipaksa untuk menjadi baik-baik saja. Bahwa tak ada kecewa di sana. Segalanya baik-baik saja. Bisa saya analogikan begini, ketika kita sedang mendownload sebuah data dalam bentuk PDF atau Youtube misalnya, belum sampai terdownload sampai tuntas alias 100% namun tiba-tiba kita aborted atau kita stop di 60%. Apa yang terjadi? Tentu saja data belum sempurna terdownload, sehingga kemungkinan data atau program tidak bisa dibuka atau mungkin hanya setengah dari yang seharusnya.

Ya, aku ingin mengalir dalam menerjemahkan apa itu “takut”. Jadi jika tidak sesuai dengan teori psikologi, anggap saja aku memang malas untuk membuka referensi, atau bisa jadi aku memang ingin jujur tentang analisaku pada istilah “takut”. Kembali ke rasa takut yang bisa kapan saja dan di mana saja menderaku. Kenapa tiba-tiba aku ngoceh tentang rasa yang satu ini? Karena beberapa menit lalu aku baru saja didatangi rasa itu. Lagi-lagi dia, si “takut” itu, menderaku, menusuk jantungku, dalam sekali, hingga detak jantungku membutuhkan waktu lama untuk kembali normal. Tentu saja rasa itu tidak datang dengan sendirinya. Ada sebab di sana. Karena sudah jelas, rasa itu sendiri adalah akibat. Lalu siapa yang merangsang rasa takut itu keluar mendatangiku? Tentu saja jiwa lain yang baik sadar maupun tanpa sadar menstimulus rasa itu keluar. Dan aku rasa aku benar tentang ini. Karena hanya aku yang merasakannya. Aku takut, kecewa, perih, sungguh sangat perih. Tapi aku tak ingin menghilangkan rasa itu secara praktis dengan menganggap segalanya baik-baik saja. Aku ingin melepas rasa itu, biarlah bergerilya hingga ke jantungku, paru-paruku, lambungku, dan entah kemana lagi. aku tetap berfikir dan mengambil hikmah dari rasa itu. Seberapa seringpun aku merasakannya, takkan kubiarkan ataupun kupaksakan memutus rasa takut itu. Bahkan jika dengan menangis bisa mengurangi rasa takut, akan kubiarkan tangisku keluar, karena aku bukan robot.

“F” wanna be

November 16, 2009

They, the Feminist (F), the real wake of our long sleep. their thoughts come to enlightenment, awaken, wake, and move. I was lucky to know F. Did you ever hear, know, or even you to be one of them? Yes, I mean becoming F. of course you’ve heard, knew, or maybe you have become part of them. be thankful, because we’re running on a certainty. Either when I have first got to know them and the term Femisnism?. Feminism, a movement fighting for the improvement of awareness of women’s fate. Involve and promote feminism and ideas of women’s experience of it self into the scientific study to produce an action. the late 19th century, in many western countries of birth of the movement “suffrage” who want to promote women’s living conditions related to the status and role.

the core of the suffrage movement: the socialist upheaval realize that in society there is a class of people who have not thought about his fate. these groups are women. (in Indonesia, Kartini who lived in the late 19 th century, interest in the suffrage movement through the writings of women india: Pandita Rambai). Initially suffrage movement in the U.S. and Europe is a political movement. then, in its development a political movement based on the experiences of these women become part of academic activities chosen women as the focus of attention.

then, why feminism was born? feminism was born as a long process of reply came from a variety of pain and bitterness, and bitterness will last reply inequality in the public sphere and in the domestic realm problems of oppression of women long ago. as women are often considered the second sex, sin bearer, bad luck, may be degraded and abused does not have authority even over his own self as well. problems of oppression of women until now, of which discriminated, marginalized, subordinated (only for female gender). even in terms of language, employment, family roles, education, politics / policy, legal, and socio-cultural. nature of the oppression of gender relations that due to the dominance of the patriarchal system (ideology). patriarchy is any thoughts, ideas, and actions based on the interests of men. gender is a social construction of roles of men and women (in fact dominated reply by a male bias and oppress women). feminism reject common assumptions about gender roles society that is not fair, and offered more just reply options for women and men for the same exists in this world.

resistance

November 10, 2009

eWalkRain2

got sick

November 10, 2009

I suddenly thought to talk about diseases that could come in my body. That’s about my condition some days ago, and still about stomach problems. I was less careful in selecting food for my body. I just think likes and dislikes. good and bad according to my perception. up to several times, stomach attacked again. imagine, what a pain when the stomach reject food we eat. in any rejection, the pain is felt. because it does not stand with that, so I rushed to the hospital emergency room of St.Carolus Jakarta. Dysentery amoeba. Thus the results of laboratory tests. one day before, I had acute diarrhea and abdominal pain great (colic). Dysentery comes from the Greek, the dys (= disorder) and enteron (= intestine), which means inflammation of the intestine that cause widespread symptoms, stool mucus mixed with blood. throughout the day, I was in so much pain. stomach reject food that I digested, while life must go on. yes, that pain that I experienced a few days ago. before this, I never felt how I can not control my own body. where my body was shivering so. my blood is very low tension, and my body temperature is very hot. I could not help, then I should be treated and infused. the doctor told me I had typhoid. during the week I felt how I had to wrestle with the same activity. eating through tubes. Now, I can only determined, so I do not feel it anymore. I must be willing to select foods that I eat. not based on hate and love feeling uncomfortable. I had to wise in this case. because life must go on.

get it

November 7, 2009

No one took from me, I remind myself. We are the people we protect and we believe. So I never gave a chance for another soul. Especially given the chance in, then destroy my composure. As I was thinking, all eyes were reluctant to see me, then I became more calm. That’s first. Playing with the past always led to a longing. Have you ever felt how magical a broken heart? I’ve ever felt it. what to be done, but that’s the truth. differences in pain and heartbreak is very thin. But it remains as something different. when everything seemed meaningless. even though the tears. what we’ve been ignored, has suddenly become our attention. sometimes everything is so precious. suddenly we start from scratch again. we become so fond of us. what we already have, and what we have achieved. even along the normal path that we pass, suddenly we are so valuable step. Do not repeat the same mistakes, so at least we remind ourselves. Other souls are not so strange though. that is the moment where we are building what has been destroyed.

You

November 7, 2009

starry night. paint your palette blue and grey. look out on a summer’s day. with eyes that know the darkness in my soul. Shadows on the hills. sketch the trees and the daffodils. catch the breeze and the winter chills. in colors on the snowy linen land. And now I understand what you tried to say to me. how you suffered for your sanity. how you tried to set them free. They would not listen. they did not know how. perhaps they’ll listen now. flaming flo’rs that brightly blaze, swirling clouds in violet haze reflect in you eyes of China blue. Colors changing hue. morning fields of amber grain. weathered faces lined in pain, are soothed beneath the artist’s loving hand.

And now I understand what you tried to say to me. how you suffered for your sanity. how you tried to set them free. perhaps they’ll listen now. For they could not love you, but still your love was true. and when no hope was left in sight on that starry night. You took your life as lovers often do; But I could have told you, this world was never meant for one as kind as you. portraits hung in empty halls. frameless heads on nameless walls. with eyes that watch the world and can’t forget. Like the stranger that you’ve met. the ragged men in ragged clothes. the silver thorn of bloddy rose lie crushed and broken on the virgin snow. And now I think I know what you tried to say to me. how you suffered for your sanity. how you tried to set them free. (from Don Mc Lean’s song “Vincent)

***

November 5, 2009

The greatest problems in life can never be solved. They must be outgrown, by attaining a new level of consciousness (Carl Gustav Jung, 19875-1961)

Deja vu

November 5, 2009

In the middle of the corner, I was there. I became a part of them. Exactly few weeks ago until now. I was reluctant to tell it, but I realized I had to share. Yes, I’m still in the midst of them. Now I’m equal to them. About this, my memory is very strong. I never felt the same. The situation suddenly became a cycle. Sometimes I was below, sometimes above. At one time I was a student, at the other times I as a lecturer. Because I enjoy this process, then I really realized that I was part of that cycle.

Life often moves in a circle again. Like a wheel, he can spin forward or backward while moving or in a place. One time I stood in one spot, then a few or several years later I touched the spot again. Deja vu, I have been here before. Place, event, also the same focal point. What distinguishes consciousness only. Forms of consciousness are not the same, because the level of consciousness has many layers. With them, I studied the research gender perspective. I do not want to say why I suddenly learn more about gender than about journalism. Journalism, I’m used to it, like this moment when I shared my story with you.

Life should be developed. Likewise the knowledge that we have. I proudly say, I was lucky to be part of the life cycle. I’ve been at the top, then down, then right, then left, sometimes also in the middle. Who would have thought, only we know. Like now, I just enjoy the process. I never felt that excessive boredom, as I always rotates in the life cycle. I’m proud as a human being. I want to stay like this. Until without realizing it, I have reached my dream.